![]() |
| Hanya Islam, Satu-satumya Agama Allah |
Ikuti di Facebook
Mega Menu
Trending Now
Postingan lainnya...
Kategori
Abdul Somad
(1)
Amalan
(1)
AudioDakwah
(2)
Baru
(24)
Faedah Surat Al-Quran
(1)
Kandungan surat
(1)
Kisah Sahabat Rasulullah
(3)
Ma’rifatullah
(5)
Motivasi Islam
(1)
Muallaf
(2)
Nasihat
(2)
Quran Surah
(4)
Renungan Islam
(3)
Tafsir Quran
(1)
Zakir Naik
(15)
Terbaru
Lihat semua
© 2015-2021 Newspaper Blogger
Popular Post
Tampilkan postingan dengan label Ma’rifatullah. Tampilkan semua postingan
Ma’rifatullah
Islam adalah satu-satunya agama yang dibawa oleh para Nabi
dan Rasul, sejak nabi pertama (Nabi Adam AS) hingga rasul terakhir yaitu
Muhammad Shallalahu ‘Alaihi Wassalam. Islam adalah agama yang di bawa oleh nabi
Musa alaihissalam, nabi Isa alaihissalam. Nabi Musa AS bukanlah pembawa agama
Yahudi dan Nabi Isa AS (Yesus Kristus) bukan pula pembawa agama agama Nasrani
(Kristen). Nabi Musa AS dan Isa AS (Yesus), mereka mengajarkan Islam juga,
mengajak untuk menyembah hanya kepada Allah, tidak menyekutukannya dengan apapun,
tidak menjadikan Yesus sebagai Tuhan.
Islam adalah satu-satunya agama yang diturunkan, Allah tidak
menurunkan agama selain agama Islam ini. Islam satu-satunya agama yang di
ridhoinya,
Allah berfirman dalam Quran Surat (Al-Imran[3]: 19) “Sesungguhnya
agama yang diridhoi disisi Allah hanyalah islam.”
Maka jelaslah, Islam adalah
agama Allah dan agama selain islam adalah agama bathil. Allah sekali-kali tidak
akan menerima agama selain Islam (Agama yang berserah diri, tunduk hanya kepada
tuhan semesta Alam).
Penganut agama selain islam di akhirat termasuk orang-orang
yang merugi. Allah berfirman “Barang siiapa yang mencari-cari agama selain
Islam, maka sekali-kali tidak akan diterima agama selain daripadanya, dan di
akhirat termasuk orang-orang yang merugi." (QS. Ali-Imran[3]:85)
Rasulullah Shallalahu ‘Alaihi Wassalam, mengabarkan kepada
kita bahwa penganut agama selain Islam menjadi penghuni neraka Jahannam, mereka
kekal di dalam neraka selama-lamanya. Mereka tidak akan keluar dari neraka
meskipun sesaat. Gejolak api neraka akan mengepung penghuninya. Di dalamnya
mereka tidak mati dan tidak pula hidup. Nauzubillahi Min Dzalik kita berlindung
kepada Allah dari siksa neraka.
Kemudian Rasulullah SAW bersabda, “Demi robb-ku yang jiwa Muhammad
berada di tangan-Nya, siapapun juga dari umat ini, baik Yahudi maupun Nasrani,
yang mendengar tentang aku, kemudian meninggal dunia dengan tidak mengimani
apa-apa yang aku diutus dengannya, maka dia pasti termasuk penghuni neraka.”
(HR Muslim)
Beliau saw juga mengabarkan bahwa yang hanya memasuki surga
Allah Subhanahu wa’taala adalah jiwa Muslim. Ini tentunya menjadi kabar gembira
bagi kaum Muslimin, maka jangan remehkan rahmat ISLAM yang telah Allah
Anugrahkan kepada masing-masing manusia yang telah menerima Islam sepenuhnya.
Rasullulah Saw bersabda kembali, “Sesungguhnya tidak akan masuk surga melainkan
jiwa muslim..”(HR. Bukhari dan Muslim)
Dalil-dalil yang telah dipaparkan diatas sangat jelas bahwa
agama yang benar adalah Islam, para penganut Islamlah yang akan memasuki Jannah
(Surga) yang penuh kenikmatan kekal didalamnya. Klaim bahwa semua agama juga
akan memasuki surga adalah klaim yang tidak benar (bathil) karena tidak ada
dasarnya.
SaudaraKu-SaudariKu kaum muslimin ...
Jangan sampai Islam kita tergadaikan dengan rendahnya dunia. Pertahankan
Islan dalam hati kita hingga ajal menjemput kita! Apapun yang terjadi tetap
Islam sampai Allah mewafatkan kita.
Published by: Yayasan Cinta Remaja
Edited by: Cahaya Islam Blog..
Published by: Yayasan Cinta Remaja
Edited by: Cahaya Islam Blog..
Ma’rifatullah
Akan tiba masanya bagi seluruh manusia untuk menyaksikan bagaimana bumi digenggam-Nya dan langit pun akan digulung dengan tangan kanan-Nya. Moment itu terjadi pada hari kiamat dimana pada hari itulah segala amal hamba-hamba-Nya akan dibisab dan pada hari itu pulalah Allah akan menunjukkan kekuasaan-Nya dan kebesaran-Nya. Nah, mari kita baca lebih seksama lagi tentang peristiwa ini yaitu ketika Allah menggenggam bumi dan menggulung langit seperti menggulung lembaran kertas berikut penjelasan tentang Arsy-Nya…
Berangkat dari firman Allah dalam surat Az-Zumar ayat 62 yang berbunyi:
“Dan mereka tidak mengagungkan Allah dengan pengagungan yang semestinya, padahal bumi seluruhnya dalam genggaman-Nya pada hari kiamat dan langit digulung dengan tangan kanan-Nya. Maha suci Allah dan Maha tinggi Dia dari apa yg mereka persekutukan”
Imam ibnu Katsir’ dalam kitab tafsirnya menjelaskan bahwa:
Ayat ini berkenaan dengan sifat Allah kita mengimani bahwa bumi itu benar-benar digenggam dengan Tangan Allah sebagaimana yang tertulis dalam ayat tersebut dan langit itu benar-benar digulung dengan Tangan Kanan-Nya.Dan Allah menggulung langit seperti menggulung lembaran kertas sebagaimana termaktub dalam surat Al-Anbiyaa ayat 104 yang berbunyi :”Yaitu pada hari Kami gulung langit sebagaimana menggulung lembaran-lembaran kertas”
Kemudian beliau melanjutkan dengan ayat berikutnya:
Allah Ta’ala berfirman , “Dan mereka tidak mengagungkan Allah dengan pengagungan yang semestinya”maksudnya, orang-orang musyrik tidak mengagungkan Allah dengan pengagungan yang sebenarnya ketika mereka menyembah Allah, mereka menyembah pula kepada yang lain-Nya . Padahal Allah adalah Maha besar yang tidak ada yang lebih besar daripada-Nya. Yang Maha kuasa atas segala sesuatu. Yang memiliki segala sesuatu. Semuanya berada dibawah ketentuan dan kekuasaan-Nya. Ibnu Abbas berkata, “Dan mereka tidak mengagungkan Allah dengan pengagungan yang semestinya” mereka adalah orang-orang kafir yang tidak beriman kepada qudrat Allah atas mereka.Maka barangsiapa yang beriman bahwa Allah itu Maha kuasa terhadap segala sesuatu, dia telah mengagungkan Allah dengan pengagungan yang sebenarnya.Dan, barangsiapa yang tidak beriman terhadap hal itu sesungguhnya dia tidak mengagungkan Allah dengan pengagungan yang sebenarnya.(tafsir Ibnu Katsir 4/129-130) Banyak sekali hadits-hadits yang berkaitan dengan ayat mulia ini. Diantaranya yaitu;
Hadits pertama :Ibnu Mas’ud berkata ,”salah seorang pendeta Yahudi datang kepada Rasulullah shallallahu alaihi wassalam dan berkata :Wahai Muhammad! Sesungguhnya kami menjumpai dalam kitab suci kami bahwa Allah akan meletakkan langit diatas satu jari, air diatas satu jari, tanah diatas satu jari, dan seluruh makhluk diatas satu jari , maka Allah berfirman:Akulah penguasa! Tatkala mendengarnya, tertawalah Rasulullah sehingga tampak gigi-gigi beliau, karena membenarkan ucapan pendeta Yahudi itu, kemudian beliau membacakan firman Allah ;Dan mereka tidak mengagungkan Allah dengan pengagungan yang semestinya, padahal bumi seluruhnya dalam genggaman-Nya pada hari kiamat….dstnya”(mutafaq alaih)
Hadits ini menunjukkan bahwa Allah mempunyai jari-jari sebagaimana Allah mempunyai kedua tangan.Allah juga memiliki jari-jari tetapi jari tangan Allah tidaklah sama dengan jari tangan makhluk-Nya sebagaimana firman-Nya : {Tidak ada sesuatupun yang menyerupai-Nya dan Dia adalah Maha mendengar lagi Maha melihat } surat Assyuura (42) ayat 11.
Hadits kedua :Disebutkan dalam riwayat lain oleh Muslim :
“…gunung-gunung dan pohon-pohon diatas satu jari, kemudian digoncangkan-Nya dan berfirman:Akulah penguasa, Akulah Allah “
Hadits ketiga : Dan disebutkan dalam riwayat lain oleh Bukhari :
“…meletakkan semua langit diatas satu jari, air serta tanah diatas satu jari, dan seluruh makhluk diatas satu jari…”(HR.Bukhari & Muslim)
Hadits keempat : Imam Muslim meriwayatkan dari Ibnu Umar bahwa Rasulullah bersabda :
“Allah akan menggulung seluruh lapisan langit pada hari kiamat, lalu diambil dengan tangan kanan-Nya dan berfirman : Akulah Penguasa, mana orang-orang yang berlaku lalim, mana orang-orang yang berlaku sombong? Kemudian Allah menggulung ketujuh lapis bumi lalu diambil dengan tangan kiri-Nya dan berfirman:Akulah Penguasa mana orang-orang yang berlaku lalim, mana orang-orang yang berlaku sombong “ (Hadits Marfu’)
Hadits kelima : Hadits riwayat Abu Dzar hadits ini merupakan hadits Shahih beliau bertanya kepada Rasulullah:
“Ya, Rasulullah ayat apa yang paling besar dan paling agung didalam Al-Qur’an ? Rasulullah menjawab :Ayat kursi , perbandingan 7langit dengan kursi seperti satu gelang yang dilemparkan ditengah-tengah bumi ini dan perumpamaan keutamaan arsy Allah dengan kursi seperti perumpamaan bumi ini dengan gelang besi itu”
(lihat surat Al-Baqarah ayat 255) yang dimaksud dengan kursi menurut penafsiran yang shahih dari Ibnu Abbas bahwa kursi itu adalah tempat kedua Kaki Allah/tempat Allah meletakkan kedua Kaki-Nya dan Arsy(tempat Allah bersemayam) tidak ada yang mampu mengukurnya kecuali Allah sendiri. (lihat Alqaulul mufid alaa kitabit tauhid ; 3/378 cetakan Darul Ashimah ,Riyadh ; Syaikh Shalih Ibnu Utsaimin)
Hadits keenam: Diriwayatkan oleh Ibnu Mahdi dari Hamad bin Salamah dari ‘Ashim dari Zirr dari Abdullah bin Mas’ud beliau berkata :
“Antara langit yang paling bawah dengan langit berikutnya jaraknya 500 tahun, dan antara setiap langit jaraknya 500 tahun, antara langit yang ketujuh dengan kursi jaraknya 500 tahun dan antara kursi dan samudra air jaraknya 500 tahun sedangkan Arsy’ berada diatas samudra air itu, dan Allah berada diatas Arsy tersebut tidak tersembunyi bagi Allah suatu apapun dari perbuatan kamu sekalian “
dan diriwayatkan dengan lafadzh seperti ini oleh Al-Mas’udi dari “ashim dari Abu Wa’il dari Abdullah bin Mas’ud demikian dinyatakan oleh Imam Adz-Dzahabi lalu katanya ;”atsar tersebut diriwayatkan melalui beberapa jalan “ dan beliau menshahihkan hadits ini begitu pula Ibnu Qayyim dalam kitabnya(ijtima’ aljuyus Alislamiyah hal 100) dan Alhaitsami (1/65) dan Imam Thabrani beliau berkata :Bahwa rijal yang meriwayatkannya shahih/terpercaya (ibid, hal 379)
hadits ketujuh: Ibnu Hatim meriwayatkan dengan sanadnya dari Jabir bahwa Rasulullah bersabda:
“Aku diidzinkan untuk memberitahukan kepada kamu tentang malaikat yang memikul Arsy’ bahwa jarak antara daun telinga dan lehernya adalah sejauh 700 tahun perjalanan burung terbang”(hadits shahih riwayat Imam Abu Dawud dan Syaikh Nashiruddin Albani menshahihkan hadits ini dalam Shahih Abu Dawud dan Silisilah Hadits Shahih di juz pertama)
Hadits ini menunjukkan bahwa Arsy merupakan makhluk Allah yang terbesar dimana Arsy ini akan dijunjung oleh beberapa malaikat sebagaimana yang dikatakan oleh Ibnu Katsir dalam tafsirnya ketika beliau menafsirkan surat Al Haaqqah ayat 17;
“Dan pada hari itu delapan malaikat menjunjung Arsy Rabbmu diatas mereka”
Diriwayatkan dari sa’ad bin Jubair bahwa jumlah malaikat pemikul Arsy adalah delapan shaf demikian pula berita yang diterima dari Ibnu Abbas. Dan dalam satu shaf tidak terkira jumlahnya. (Tafsir Ibnu Katsir 4/796)
Dan hanya Allah Ta’ala yang Maha Mengetahui. Segala puji hanya milik Allah Rabb sekalian alam.Dengan demikian setelah kita membaca ayat diatas berikut tafsir dan keterangan hadits yang memuat tentang kebesaran dan keagungan Allah ini maka akan membuat diri kita semakin kecil dan hina dihadapan-Nya dan akan berusaha memacu jiwa kita agar jangan sampai menjadi hamba-Nya yang durhaka.Mudah-mudahan Allah senantiasa membimbing kita dan mengampuni dosa-dosa kita ini, dan semoga shalawat dan salam senantiasa dilimpahkan Allah kepada junjungan kita Nabi Muhammad shalallahu’alaihi wassalam kepada keluarga dan para sahabatnya.Amin.
Ma’rifatullah
Syaikhul Islam Ibnu Taimiyyah rahimahullah berkata dalam kitab beliau,AL-Aqidah Al-Wasithiyyah,
“Dan telah kami sebutkan bahwasanya diantara unsur iman kepada Allah adalah mengimani berita yang Allah sampaikan melalui kitab-Nya, juga berita yang Allah sampaikan melalui sabda Rasul-Nyashallallahu’alaihi wasallam yang mutawatir dan berita-berita yang disepakati (kebenarannya) oleh para ulama terdahulu. Dan diantara (berita) tersebut menyebutkan bahwa Allah Subhanahu Wa Ta’ala berada diatas langit, bersemayam diatas’Arsy-Nya dan tinggi diatas makhluk-Nya. Allah Subhanahsenantiasa bersama makhluk-Nya dimanapun mereka berada dan mengetahui segala sesuatu yang mereka kerjakan. Sebagaimana hal ini Allah sebutkan dalam firman-Nya,
“Dialah yang menciptakan langit dan bumi dalam enam masa. Kemudian Dia bersemayam di atas ‘Arsy dia mengetahui apa yang masuk ke dalam bumi dan apa yang keluar daripadanya dan apa yang turun dari langit dan apa yang naik kepadanya. Dan Dia bersama kamu di mana saja kamu berada. Dan Allah Maha Melihat apa yang kamu kerjakan.” (Qs. Al-Hadid :4)
Dan ayat ini (Allah bersama kalian dimanapun kalian berada) tidaklah bermakna Allah bercampur-baur dengan hamba-Nya. Karena makna seperti ini tidak bisa diterima dari sisi kaidah bahasa. Bahkan rembulan yang menjadi salah satu tanda atas kebesaran Allah, dimana ia adalah makhluk kecil diantara makhluk-makhluk ciptaan-Nya juga berada diatas langit. Ia pun selalu bersama dengan musafir maupun yang bukan musafir dimanapun mereka berada. Sementara Allah berada diatas ‘Arsy dan Dia juga dekat dengan hamba-Nya, senantiasa mengawasi, mengetahui apa yang mereka kerjakan dan sifat-sifat lainnya yang memiliki makna rububiyyah. Dan kalimat yang Allah sebutkan ini (yaitu Allah berada diatas ‘Arsy dan juga senantiasa bersama kita) adalah kalimat yang benar tidak perlu diselewengkan maknanya (kepada makna yang lain).”
***
Penjelasan:
Syaikh Shalih Fauzan hafizhahullah menjelaskan perkataan Ibnu Taimiyyahrahimahullah diatas,
“Sang Penulis (Syaikhul Islam Ibnu Taimiyyah -pent) rahimahullah telah mengkhususkan dua pembahasan, yaitu bersemayamnya Allah di atas ‘Arsy dan tentang kebersamaan Allah dengan makhluk-Nya, dengan penjelasan yang mampu menghilangkan kejanggalan. Terkadang ada beberapa permasalahan yang tampaknya bertentangan antara kedua hal tersebut yang menyebabkan timbulnya kerancuan. Ada orang yang menyangka bahwa sifat tersebut merupakan sifat makhluk dan sesungguhnya Allah berada di tengah-tengah makhluk-Nya. Jika demikian, bagaimana mungkin Allah berada di atas makhluk-Nya, bersemayam di atas ‘Arsy namun Dia juga berada dekat dengan makhluk-Nya, tanpa adanya campur-baur?
Jawaban dari kerancuan ini -sebagaimana yang telah disebutkan oleh Penulis (Syekhul Islam Ibnu Taimiyyah) rahimahullah dapat dilihat dari berbagai sudut pandang:
Sudut pandang pertama
Sesungguhnya pemahaman (yang keliru) semacam ini tidak sesuai dengan (kaidah) bahasa Arab yang dengan bahasa itulah Al-Quran diturunkan. Sesungguhnya, kata مع dalam bahasa Arab menunjukkan kebersamaan secara mutlak dan tidak menunjukkan makna adanya percampuran, tidak pula persekutuan, maupun persentuhan.
Engkau boleh saja mengatakan, “ زوجتي معي (Istriku ada bersamaku),” sedangkan engkau berada di sebuah tempat dan istrimu berada di tempat lain. Engkau juga boleh saja mengatakan, “ مازلنا نسير والقمر معنا” (Kami senantiasa berjalan sedangkan rembulan bersama kami)” padahal saat itu rembulan berada di langit dan engkau bersama dengan para musafir maupun yang bukan musafir di mana pun mereka semua berada.
Jika kalimat tersebut sesuai dengan hakikat rembulan sementara dia adalah makhluk yang kecil, maka bagaimana mungkin hakikat semisal itu (yaitu, tentang makna ma’iyyah/kebersamaan) tidak pantas diperuntukkan bagi Sang Khalik yang tentunya jauh lebih agung dibandingkan apa pun jua?
Sudut pandang kedua
Sesungguhnya pendapat ini (yang mengingkari bahwa Allah bersemayam di atas ‘Arsy namun juga berada dekat dengan makhluk-Nya -pent) telah menyelisihi kesepakatan umat terdahulu dari kalangan para sahabat Rasulullahshallallahu ‘alaihi wa sallam, para tabi’in, serta para tabi’ut tabi’in. Mereka semua adalah generasi terbaik umat ini sekaligus menjadi teladan. Ketiga generasi utama tersebut telah bersepakat bahwa sesungguhnya Allah bersemayam di atas ‘Arsy-Nya, berada tinggi di atas makhluk-Nya, di tempat yang benar-benar tinggi dari makhluk-Nya.
Mereka pun bersepakat bahwa sesungguhnya ilmu Allah Subhanahu wa Ta’ala berada bersama makhluk-Nya. Sebagaimana mereka menafsirkan firman Allah “وهو معكم (Dan Dia berada bersama kalian)” dengan penafsiran tersebut.
Sudut pandang ketiga
Sesungguhnya pendapat keliru tentang keberadaan Allah ini telah menyelisihi fitrah yang telah ditakdirkan oleh Allah untuk makhluk-Nya yang Dia tancapkan dalam fitrah para makhluk-Nya. Maka, sungguh makhluk Allah telah dikaruniai fitrah untuk menetapkan ketetapan ketinggian Allah Subhanahu wa Ta’ala di atas makhluk-Nya. Makhluk Allah pun menghadapkan diri mereka kepada Allah, ke arah atas, di kala kesulitan dan bencana menimpa. Mereka tidak menghadap ke kanan maupun ke kiri, tanpa ada seorang pun yang mengajarkan mereka untuk melakukan itu, karena itu semua merupakan fitrah yang telah dikaruniakan Allah bagi makhluk-Nya.
Sudut pandang keempat
Sesungguhnya pendapat yang keliru tersebut telah menyelisihi berita yang disampaikan oleh Allah dalam kitab-Nya (yaitu Al-Quran, pent). Telah diriwayatkan pula secara mutawatir dari Rasul-Nya shallallahu ‘alaihi wa sallambahwa Allah Subhanahu wa Ta’ala berada di atas ‘Arsy, berada tinggi di atas makhluk-Nya, dan Dia bersama dengan mereka di mana pun mereka berada.
Yang dimaksud dengan nash yang mutawatir adalah nash yang diriwayatkan oleh sejumlah orang yang diyakini tidak mungkin bersepakat untuk berdusta di antara mereka, dari periwayat pertama hingga periwayat terakhir. Ayat Al-Quran dan hadits tentang keberadaan Allah ini sangat banyak jumlahnya. Di antaranya adalah ayat yang telah disebutkan oleh Penulis (Ibnu Taimiyyah, pent) rahimahullah.
***
artikel muslimah.or.id
Ma’rifatullah
Perlu diketahui, mengenal Allah sang maha pencipta alam semesta dengan benar merupakan sumber kebahagian, kedamaian, ketentraman hidup di dunia maupun di akherat (kehidupan setelah kematian).
Orang yang tidak mengenal Allah, niscaya kehidupan seseorang akan merasa gelisah,hatinya selalu diliputi rasa takut, ia tidak akan mengenal kemaslahatan dirinya. Maka kita sangat perlu mengenal Allah dengan benar.
Kemudian dari hadits Rasullulah Shallallahu ‘Alaihi wa sallam, mengatakan bahwa di antara makhluk Allah yang paling mengetahui tentang Allah adalah Rasullulah Saw. Hendaknya kita merenungi alam semesta ini, yang terdapat tanda-tanda kebesaran Allah, meliputi yang terdapat di langit dan di bumi, keagungan Arsy ﷲ, sehingga kita dapat mengenal tuhan kita, melalui Al-Quran, Hadits, dan tanda-tanda alam semesta ini.
ASMA ALLAH YANG PALING AGUNG
Para ulama kalangan umat islam banyak menyatakan bahwa lafzhul jalaalah “Allah” merupakan asma Allah yang paling Agung, dari 99 nama-nama indah (Asmaul Husnah) yang Allah miliki nama “Allah” lah yang paling agung. Ketika Allah dipanggil dengan asma itu pasti di meresponnya, dan ketika memohon dengan asma itu pasti dikabulkan. Oleh karena itu, lafzhul jalaalah (ﷲ) merupakan asma Allah yang berulang-ulang disebutkan dalam Al-Quran, sekitar seribu kali; Allah merupakan asma yang mengabulkan segala perimintaan, menganugrahkan rahmat, dan Allah merupakan asma yang menciptakan langit dan bumi.
AL-QUR’ANUL KARIM (KALAMULLAH)
Apabila anda memperhatikan ayat-ayat yang terdapat pada Al-Quran niscaya anda akan mendapatkan bahwa seluruh ayat Al-Quran berbicara tentang iman; Al-Quran berbicara tentang Allah, Zat-nya, Asma-asmanya dan sifat-sifatnya, perintah & Larangannya. Yang mana maksud tersebut merupakan bagian dari keharusan beriman, Al-Qur’an berbicara tentang orang-orang yang beriman dan apa yang mereka persiapkan untuk kepenting dunia dan akherat, atau berbicara tentang orang-orang kafir yang menentang jalan keimanan serta tidak percaya dengan keberadaan Allah, maka ia akan mendapatkan hukuman kelak diakhirat karena kekafirannya terhadap peringatan-peringatan Allah, hal tersebut merupakan balasan bagi orang yang tidak mau beriman.
Kitab suci Al-Quran berbicara kepada kita tetang Allah dan permasalahan keimanan (keyakinan), karena Al-Quran adalah kalamullah (kalam Allah) yang diturunkan oleh Allah, ditunjukan untuk memberikan petujuk kepada seluruh umat manusia. Mereka merujuk kepada Al-Quran untuk mengenal Allah SWT. Dengan segala kemampuan dan keterbaatasan yang dimilikinya, kadangkala ada seseorang yang tidak pandai membaca dan menulis mengambil pelajran dari Al-Quran sesuai dengan kadar iman dan cintanya kepada Allah, sementara orang yang hatinya tertutup/dikunci mati oleh Allah karena kesombongannya terhadap petunjuk-petunjuknya sehingga mereka sulit untuk beriman, maka mereka tidak akan diberi hidayah oleh Allah dan tidak dapat mengambil pelajaran apapun dari Al-Quran. Dan inilah termasuk orang yang disesatkan oleh Allah, Sungguh merugilah orang seperti ini.
Betapa indahnya, jika kita dapat mengenal Allah melalui kalaam-nya yang dapat mengetuk hati nurani.
FAEDAH TERBESAR MENGENAL ALLAH DARI AL-QURAN DAN AS-SUNNAH RASULLULAH SHALLALLAHU ‘ALAIHI WA SALLAM
1. Pertama, Orang Yang Mengenal Allah Merasa Takut Kepada-Nya
Allah ta’ala berfirman (yang artinya), “Sesungguhnya yang merasa takut kepada Allah di antara hamba-hamba-Nya adalah orang-orang yang berilmu saja.” (QS. Fathir: 28)
Ibnul Qayyim rahimahullah berkata, “…Ibnu Mas’ud pernah mengatakan, ‘Cukuplah rasa takut kepada Allah sebagai bukti keilmuan.’ Kurangnya rasa takut kepada Allah itu muncul akibat kurangnya pengenalan/ma’rifah yang dimiliki seorang hamba kepada-Nya. Oleh sebab itu, orang yang paling mengenal Allah ialah yang paling takut kepada Allah di antara mereka. Barangsiapa yang mengenal Allah, niscaya akan menebal rasa malu kepada-Nya, semakin dalam rasa takut kepada-Nya, dan semakin kuat cinta kepada-Nya. Semakin pengenalan itu bertambah, maka semakin bertambah pula rasa malu, takut dan cinta tersebut….” (Thariq al-Hijratain, dinukil dari adh-Dhau’ al-Munir ‘ala at-Tafsir [5/97])
2. Kedua, Orang Yang Mengenal Allah meng-ikhlas Beribadah Kepada-Nya
Rasulullah shallallahu ‘alaihi wa sallam bersabda, “Sesungguhnya setiap amal itu dinilai berdasarkan niatnya. Dan setiap orang hanya akan meraih balasan sebatas apa yang dia niatkan. Maka barangsiapa yang hijrahnya [Ikhlas] karena Allah dan Rasul-Nya niscaya hijrahnya itu akan sampai kepada Allah dan Rasul-Nya. Barangsiapa yang hijrahnya karena [perkara] dunia yang ingin dia gapai atau perempuan yang ingin dia nikahi, itu artinya hijrahnya akan dibalas sebatas apa yang dia inginkan saja.” (HR. Bukhari dan Muslim).
Rasulullah shallallahu ‘alaihi wa sallam bersabda, “Sesungguhnya Allah tidak memandang kepada rupa kalian, tidak juga harta kalian. Akan tetapi yang dipandang adalah hati dan amal kalian.” (HR. Muslim).
Ibnu Mubarak rahimahullah mengingatkan, “Betapa banyak amalan kecil yang menjadi besar karena niat. Dan betapa banyak amalan besar menjadi kecil gara-gara niat.” (Jami’ al-’Ulum wal Hikam oleh Ibnu Rajab).
3. Ketiga; Orang Yang Mengenal Allah Selalu mengingat Akhirat
Allah ta’ala berfirman (yang artinya), “Barangsiapa yang menghendaki kehidupan dunia dan perhiasannya, maka akan Kami sempurnakan baginya balasan amalnya di sana dan mereka tak sedikitpun dirugikan. Mereka itulah orang-orang yang tidak mendapatkan apa-apa di akherat kecuali neraka dan lenyaplah apa yang mereka perbuat serta sia-sia apa yang telah mereka kerjakan.” (QS. Huud: 15-16)
Rasulullah shallallahu ‘alaihi wa sallam bersabda, “Bersegeralah dalam melakukan amal-amal, sebelum datangnya fitnah-fitnah (ujian dan malapetaka) bagaikan potongan-potongan malam yang gelap gulita, sehingga membuat seorang yang di pagi hari beriman namun di sore harinya menjadi kafir, atau sore harinya beriman namun di pagi harinya menjadi kafir, dia menjual agamanya demi mendapatkan kesenangan duniawi semata.” (HR. Muslim)
4. Keempat, Orang Yang Mengenal Allah Akan Merasakan Manisnya Iman
Rasulullah shallallahu ‘alaihi wa sallam bersabda, “Ada tiga perkara, barangsiapa memilikinya maka dia akan merasakan manisnya iman…” Di antaranya, “Allah dan rasul-Nya lebih dicintainya daripada segala sesuatu selain keduanya.” (HR. Bukhari dan Muslim). Rasulullah shallallahu ‘alaihi wa sallam bersabda, “Akan bisa merasakan lezatnya iman orang-orang yang ridha kepada Rabbnya, ridha Islam sebagai agamanya, dan Muhammad sebagai rasul.” (HR. Muslim).
5. Kelima, Orang Yang Mengenal Allah Tidak Tertipu Oleh Harta
Rasulullah shallallahu ‘alaihi wa sallam bersabda, “Bukanlah kekayaan itu dengan banyaknya perbendaharaan dunia. Akan tetapi kekayaan yang sebenarnya adalah rasa cukup di dalam hati.” (HR. Bukhari). Rasulullah shallallahu ‘alaihi wa sallam bersabda, “Seandainya anak Adam itu memiliki dua lembah emas niscaya dia akan mencari yang ketiga. Dan tidak akan mengenyangkan rongga/perut anak Adam selain tanah. Dan Allah akan menerima taubat siapa pun yang mau bertaubat.” (HR. Bukhari)
6. Keenam, Orang Yang Mengenal Allah Mengawasi Gerak-Gerik Hatinya
Ibnul Qayyim rahimahullah berkata, “..Begitu pula hati yang telah disibukkan dengan kecintaan kepada selain Allah, keinginan terhadapnya, rindu dan merasa tentram dengannya, maka tidak akan mungkin baginya untuk disibukkan dengan kecintaan kepada Allah, keinginan, rasa cinta dan kerinduan untuk bertemu dengan-Nya kecuali dengan mengosongkan hati tersebut dari ketergantungan terhadap selain-Nya. Lisan juga tidak akan mungkin digerakkan untuk mengingat-Nya dan anggota badan pun tidak akan bisa tunduk berkhidmat kepada-Nya kecuali apabila ia dibersihkan dari mengingat dan berkhidmat kepada selain-Nya. Apabila hati telah terpenuhi dengan kesibukan dengan makhluk atau ilmu-ilmu yang tidak bermanfaat maka tidak akan tersisa lagi padanya ruang untuk menyibukkan diri dengan Allah serta mengenal nama-nama, sifat-sifat dan hukum-hukum-Nya…” (al-Fawa’id, hal. 31-32)
7. Ketujuh, Orang Yang Mengenal Allah Mencurigai Dirinya Sendiri
Ibnu Abi Mulaikah -salah seorang tabi’in- berkata, “Aku telah bertemu dengan tiga puluhan orang Sahabat Rasulullah shallallahu ‘alaihi wa sallam, sedangkan mereka semua merasa sangat takut kalau-kalau dirinya tertimpa kemunafikan.” (HR. Bukhari secara mu’allaq).
Suatu ketika, ada seseorang yang berkata kepada asy-Sya’bi, “Wahai sang alim/ahli ilmu.” Maka beliau menjawab, “Kami ini bukan ulama. Sebenarnya orang yang alim itu adalah orang yang senantiasa merasa takut kepada Allah.” (dinukil dari adh-Dhau’ al-Munir ‘ala at-Tafsir [5/98])
Demikian, semoga dapat mendatangkan hidayah dan taufik dari Allah. Mohon maaf jika terjadi kesalahan dalam penyampaian. Wassalamu’Alaikum Warahmatullahi Wabbarakatuh.
Referensi: Muslim.or.id
Ma’rifatullah
Ma’rifatullah mengenal Allah dengan benar merupakan sumber ketentraman hidup di dunia maupun di akherat. Kita wajib meyakini bahwa Allah Pencipta seluruh makhluk benar-benar ada, walaupun kita tidak pernah bertemu, melihat, mendengar secara langsung.Dialah satu-satunya tuhan semesta alam yang berhak disembah, sebagaimana dalam firmannya:
Allah menyatakan bahwasanya tidak ada Tuhan melainkan Dia (yang berhak disembah), Yang menegakkan keadilan. Para Malaikat dan orang-orang yang berilmu (juga menyatakan yang demikian itu). Tak ada Tuhan melainkan Dia (yang berhak disembah), Yang Maha Perkasa lagi Maha Bijaksana.[Qs.Ali-Imran:18]Dialah Allah, yang menciptakan Alam semesta ini, langit, bumi beserta isinya Allah lah yang menciptakan semuanya. Adapun sifat Allah, dia tidak serupa dengan semua ciptaan baik bentuknya maupun sifatnya.
(Dia) Pencipta langit dan bumi. Dia menjadikan bagi kamu dari jenis kamu sendiri pasangan-pasangan dan dari jenis binatang ternak pasangan-pasangan (pula), dijadikan-Nya kamu berkembang biak dengan jalan itu. Tidak ada sesuatupun yang serupa dengan Dia, dan Dia-lah Yang Maha Mendengar lagi Maha Melihat.[QS As-Syura 42 / 11]
Mengenal Allah Subhanahu Wa Ta'ala mencakup 4 bagian yaitu :
1. Mengenal keberadaan Allah.
2. Mengenal keesaan rububiyah Allah (Hanya Allah yang mencipta)
3. Mengenal keesaan uluhiyah Allah (hak Allah untuk diibadahi)
4. Mengenal nama-nama dan sifat-sifat Allah Subhanahu Wa Ta'ala.
Keempat bagian ini merupakan satu kesatuan, tidak boleh dipisah-pisahkan. Berikut penjelasannya:
1. MENGENAL ADANYA ALLAH SUBHANAHU WA TA'ALA
Banyak sekali dalil-dalil yang menunjukkan adanya Allah Swt. Diantaranya:
Apakah mereka diciptakan tanpa sesuatupun (yakni tanpa Pencipta), ataukah mereka yang menciptakan (diri mereka sendiri)? [QS Ath-Thur 52 / 35]Maksudnya, keadaan manusia atau makhluk yang sudah ada ini tidak lepas dari salah satu dari tiga keadaan :
a. Mereka ada tanpa Pencipta. Ini tidak mungkin. Tidak ada akal sehat yang bisa menerima bahwa sesuatu itu ada tanpa ada yang membuatnya.
b. Mereka menciptakan diri mereka sendiri. Ini lebih tidak mungkin lagi. Karena bagaimana mungkin sesuatu yang awalnya tidak ada menciptakan sesuatu yang ada.
c. Inilah yang haq, yaitu Allâh Azza wa Jalla yang telah menciptakan mereka, Dialah Sang Pencipta, Penguasa, tidak ada sekutu bagi-Nya.
Seorang Arab Baduwi ditanya, “Apakah bukti tentang adanya Allah Azza wa Jalla?” Dia menjawab, “Subhânallah (Maha Suci Allah)! Sesungguhnya kotoran onta menunjukkan adanya onta, bekas telapak kaki menunjukkan adanya perjalanan! Maka langit yang memiliki bintang-bintang, bumi yang memiliki jalan-jalan, lautan yang memiliki ombak-ombak, tidakkah hal itu menunjukkan adanya al-Lathif (Allah Yang Maha Baik) al-Khabîr (Maha Mengetahui).”
Imam Ahmad rahimahullah ditanya tentang hal ini, beliau menjawab, “Ada sebuah benteng yang kokoh, halus, tidak ada pintu dan jendela. Luarnya seperti perak putih, dalamnya seperti emas murni. Ketika dalam keadaan demikian, tiba-tiba temboknya terbelah, lalu keluarlah darinya seekor binatang yang dapat mendengar dan melihat, memiliki bentuk yang indah dan suara yang merdu.”
Yang dimaksudkan oleh Imam Ahmad adalah seekor ayam yang keluar dari telurnya. [Tafsîr Ibnu Katsîr, surat al-Baqarah, ayat ke-21]
2. MENGENAL KEESAAN RUBUBIYAH ALLAH SUBHANAHU WA TA'ALA
Kita wajib meyakini keesaan rububiyah Allah, yaitu bahwa hanya Allah yang mencipta, memiliki, menguasai, dan mengatur seluruh makhluk. Hanya Allah Azza wa Jalla yang menghidupkan, mematikan, memberi rizqi, mendatangkan kebaikan, mendatangkan bencana. Tidak ada sekutu bagi Allah Azza wa Jalla dalam seluruh perkara di atas, baik malaikat, nabi, wali, jin, ruh, atau lainnya.
Rububiyah (mencipta, memiliki, dan mengatur/menguasai) seluruh alam semesta ini hanyalah bagi Allah semata. Allah Azza wa Jalla berfirman :
Segala puji bagi Allah, Rabb (Pemilik, Penguasa) semesta alam. [Al-Fatihah 1:2]
Tauhid ini tidak diingkari oleh orang-orang musyrik di zaman Rasulullah, bahkan mereka mengakuinya, sebagaimana dinyatakan oleh beberapa ayat al-Qur’an. Antara lain, firman Allah Azza wa Jalla .
"Katakanlah, "Siapakah yang memberi rezeki kepadamu dari langit dan bumi, atau siapakah yang kuasa (menciptakan) pendengaran dan penglihatan, dan siapakah yang mengeluarkan yang hidup dari yang mati dan yang mengeluarkan yang mati dari yang hidup dan siapakah yang mengatur segala urusan" Maka mereka (orang-orang musyrik jahiliyah) menjawab, "Allah". Maka katakanlah: "Mengapa kamu tidak bertaqwa (kepada-Nya)?" [QS Yunus/10: 31]
Demikian juga Iblis mengakui hal ini, dia mengakui bahwa Allah-lah yang telah menciptakannya dari api.
Allah berfirman, "Apakah yang menghalangimu untuk bersujud (kepada Adam) di waktu Aku menyuruhmu?" Iblis menjawab "Saya lebih baik daripadanya: Engkau ciptakan saya dari api sedang dia Engkau ciptakan dari tanah". [Qs Al-A’raf (7) / 12]
Oleh karena itulah, seseorang yang meyakini adanya Allah dan keesaan kekuasaan-Nya belum bisa disebut orang Islam atau orang beriman, sampai dia mengimani keesaan uluhiyah Allah, juga mengimani nama-nama dan sifat-sifat Allah, sebagaimana akan dijelaskan di bawah ini.
3. MENGENAL KEESAAN ULUHIYAH ALLAH (HAK-NYA UNTUK DIIBADAHI).
Tujuan penciptaan jin dan manusia adalah untuk beribadah kepada Allah Ta’ala semata. Seorang hamba tidak akan dapat merealisasikan tujuan tersebut, jika dia tidak mengenal Allah Ta’ala. Allah Ta’ala berfirman,
Tidaklah aku ciptakan jin dan manusia, kecuali untuk beribadah kepada-Ku.
[QS. Adz-Dzaariyaat / 51 : 56]
[QS. Adz-Dzaariyaat / 51 : 56]
Kita meyakini bahwa yang berhak diibadahi hanya Allah Subhanahu wa Ta’ala . Tidak boleh memberikan ibadah kepada selain Allah, walaupun kepada makhluk yang dekat kepada-Nya, seperti malaikat atau rasul Allah Azza wa Jalla . Apalagi kepada makhluk yang derajatnya di bawah mereka, seperti: manusia, jin, binatang, pohon, batu, planet, bintang, galaxy ataupun lainnya.
Dalam hadits: Ketika Rasulullah shallallahu ‘alaihi wa sallam mengutus Mu’adz radhiyallahu ‘anhu ke Yaman, beliau bersabda kepadanya, Engkau akan mendatangi sekelompok orang dari ahli kitab. Maka hendaklah perkara yang pertama kali engkau serukan kepada mereka ialah beribadah kepada Allah. Jika mereka telah mengenal Allah …. (HR. Bukhari no.1458 dan Muslim no.31)
Dalam lafadz yang lain :
Maka serulah mereka supaya bersaksi bahwsanya tiada sesembahan yang benar selain Allah, dan Muhammad adalah utusan Allah. Jika mereka telah mentaati hal itu …. (HR. Bukhari no.1395, dan Muslim no.29)
Dengan menggabungkan lafadz-lafadz hadis di atas, dapat diketahui bahwasanya ma’rifatullah (yang dalam bab ini berarti tauhid, atau dua kalimat syahadat) merupakan kewajiban pertama seorang hamba. (lihat Fathul Baari 13 / 367, Masail Ushuulud Diin hal. 49 – 86)
Tauhid inilah makna yang terkandung di dalam perkataan La ilaha illa Allah, karena maknanya adalah tidak ada yang berhak diibadahi selain Allah. Dia Azza wa Jalla berfirman :
Allah Azza wa Jalla juga berfirman :
???? ???????? ??????? ??????? ???????? ??????????? ??????? ??????? ? ?????? ???????? ???????????
Katakanlah, "Sesungguhnya yang diwahyukan kepadaku adalah,"Bahwasanya Ilahmu (yang kamu ibadahi) adalah Ilah Yang Esa, maka hendaklah kamu berserah diri (kepada-Nya)". [Qs Al-Anbiya’/ 21:108]
Tujuan dari pengenalan keesaan uluhiyah Allâh ini adalah supaya kita mencintai Allâh, tunduk kepada-Nya, takut dan berharap kepada-Nya, serta mengesakan ibadah hanya kepada-Nya.
Ibadah kepada Allâh yaitu merendahkan diri dan taat kepada Allâh Subhanahu wa Ta’ala dengan penuh kecintaan, pengagungan, mengharapkan rahmat, dan takut terhadap siksa. Hal itu dilakukan dengan cara melaksanakan perintah Allâh Azza wa Jalla dan menjauhi larangan-Nya.
Ibadah akan diterima oleh Allah dengan dua syarat yaitu ikhlas dan muaba’ah. Ikhlas yaitu: mencari ridha Allah semata, sedangkan mutaba’ah, yaitu mengikuti Sunnah (ajaran) Nabi Muhammad.
Oleh karena itu orang yang meyakini keesaan hak Allah untuk diibadahi, dia akan mempersembahkan segala jenis ibadah hanya kepada-Nya semata. Di antara jenis-jenis ibadah adalah ketaatan yang mutlak dengan harap dan takut; kecintaan yang disertai ketundukan mutlak; do'a; niat di dalam beribadah (ikhlas); menyembelih binatang; takut; tawakal; dan lainnya.
4. MENGENAL NAMA-NAMA DAN SIFAT ALLAH
Yaitu mengimani dan menetapkan seluruh nama-nama Allah dan sifat-sifat-Nya, yang tersebut di dalam Kitab al-Qur’ân dan Sunnah yang shahih, dengan tanpa menyerupakan dengan makhluk.
Allah Azza wa Jalla berfirman,
????????? ???????????? ??????????? ?????????? ????? ? ???????? ????????? ??????????? ??? ??????????? ? ???????????? ??? ??????? ???????????
"Hanya milik Allah asma-ul husna, maka bermohonlah kepada-Nya dengan menyebut asma-ul husna itu dan tinggalakanlah orang-orang yang menyimpang dari kebenaran dalam (menyebut) nama-nama-Nya. Nanti mereka akan mendapat balasan terhadap apa yang telah mereka kerjakan. [Qs Al-A’râf /7: 180]
?????? ?????????? ?????? ? ?????? ?????????? ??????????
Tidak ada sesuatupun yang serupa dengan Dia, dan Dia-lah Yang Maha Mendengar lagi Maha Melihat. [Qs Asy-Syura /42:11]
Inilah bagian-bagian pokok mengenal Allah Subhanahu Wa Ta'ala. Semoga dapat memberi manfaat & semoga Allah selalu membimbing kita di atas jalan yang lurus. Aamiin.
Ditulis oleh ustadz: Abu Ismail Muslim Al-Atsari
Top 7 Info Islam
-
Apakah Non-Muslim yang baik akan masuk neraka? Inilah Jawaban Dr Zakir Naik Assalamu'alaikum Warahmatullahi Wabarakatuh.. Se...
-
Apakah Non-Muslim Masuk Surga atau Neraka? Dr Zakir Naik Menjawab - Seorang penanya lelaki yang berprofesi sebagai praktisi medis ...
-
Bagaimanakah Nasib Manusia yang Lahir dalam Keluarga Non-Islam (Nonis) Dr Zakir Naik Answer - Ada seorang wanita yang tidak meng...
-
SYIAH MELAKNAT SAHABAT RASULLULAH DR ZAKIR NAIK MEMBELA, PARA SAHABAT RADHIALLAHU ‘ANHU Dr Zakir Naik mengatakan Silahkan laknat ...
-
Dr. Zakir Naik vs Pemuda ateis yang cerdas Konvensi di Dubai, sebuah acara paling bermanfaat yang dapat membuka pintu HIDAYAH kepada ...
-
Dr. Zakir Naik menjelaskan bahwa Al-Quran 100% Firman Tuhan, yang harus diyakini seluruh manusia di dunia Dr. Zakir Naik membuk...
-
Dr. Zakir Naik Menjawab Pertanyaan yang Sulit Dapatkah manusia menghancurkan seluruh dunia ini? Bukan oleh sang pencipta! - Dr. Za...

![Quran Suran Al-Imran[3]: 19 Quran Suran Al-Imran[3]: 19](https://blogger.googleusercontent.com/img/b/R29vZ2xl/AVvXsEiNb5UZimrGFlJMDPmNRtNkJfPUjyDKQw0Hv2iiBbnSORB61H2jah6rT3GwUdBHgtJZUE3cQ3c9JHjANlPxS31s3P0diHYo_QLJLuzyf-zbEQDHVEfBZtkoAyVFjFZPiYUjr_GX1nWFAY8/s400/Quran+Surat+ALi-Imran+ayat+19+-+2.png)
![QS. Ali-Imran[3]:85 QS. Ali-Imran[3]:85](https://blogger.googleusercontent.com/img/b/R29vZ2xl/AVvXsEiJqQudxfnqEN7sB3qH5sa_Ebm4enm8jAbtqxE5o5q5ymDHOjbjTPafh_fO-yU1lEm7dymFFKGeWeTb0JvXzvtvPWEOawheQYKSQnnwBKDAf45CjCc62Da28rTg4sFvlfmc_yeB_pjuVCY/s400/Quran+Surat+ALi-Imran+ayat+85.jpg)




![QS Ali-Imran 2 [18]](http://4.bp.blogspot.com/-bgI92-e-6rs/VTuex0oELRI/AAAAAAAANEI/mB7Hv-ygnrs/s1600/QS%2BAli-Imran%2B%5B18%5D.jpg)
![Quran Surat As-Syura Surat ke 42 [ayat 11]](http://3.bp.blogspot.com/-gPpOaR-T3bk/VTuhyJc-m7I/AAAAAAAANEU/EVN5yQmCOE0/s1600/QS%2BAs-Syura%2B%5B11%5D.png)
![Quran Surat Ath-Thur 52 / [35]](http://2.bp.blogspot.com/-R4QYfh2iXkI/VTup1cYdDNI/AAAAAAAANEk/WasWLTEQHx8/s1600/QS%2BAth-Thur%2B%5B35%5D.png)
.jpg)
![[Yunus/10: 31]](http://3.bp.blogspot.com/-o-g4WP4GWO4/VTut86crdwI/AAAAAAAANEw/MjwkNudp80U/s1600/Qs%2BYunus%2B10_31.png)


![[Qs Al-Fatihah 1:5]](http://1.bp.blogspot.com/-GV9bTip2oEM/VTuxPXAX1DI/AAAAAAAANFQ/jtv-lFfmenA/s1600/QS%2BAl-fatihah%2B(5).jpg)